Dua Tahun

Posted: 24 Oktober 2017 in Uncategorized
Tag:, , , , , , ,

tv

Waktu ini sangat tidak terasa berjalan, detik, menit, jam hingga tahun – tahun berlalu dengan cepatnya. Aku berpikir baru saja memiliki kekasih, ternyata tidak. Aku sudah bersamanya sampai dengan dua tahun, terhitung setelah kami memiliki sebuah status hubungan. Begitu bahagianya cinta mula – mula, detik, menit, jam selalu tidak terlewatkan akan kabarnya. Handphone selalu berdering, memunculkan namanya dilayar HP. Pertanyaan yang sama akan terlontar setiap hari, percakapan rutinitas menjadi topik yang akan menjadi perbincangan.

Walau dua tahun terasa cepat, tapi bukan terasa cepat juga menjalani hubungan ini. Banyak hal yang sudah dijalani. Tawa bahagia, haru, sedih, jengkel, dan banyak rasa lainnya sudah dirasakan dalam kurun waktu tersebut.

Cinta membuat kita bodoh? Iya kadang itu terjadi. Cinta membuat kita gila? Iya itu bisa terjadi. Cinta membuat kita lupa akan segala hal? Iya itu bisa terjadi. Cinta membuat kita dewasa? Iya itu bisa terjadi. Semua bisa terjadi tergantung bagaimana kita mengerti akan cinta yang sedang kita jalani. Bagaimana kita dapat mengatur dan mengendalikan cinta yang sedang kita jalani.

Bersamanya ada hal – hal tersebut, membuatku bodoh, gila, lupa akan segala hal, dan membuatku juga menjadi pribadi yang dewasa. Dalam hal baik maupun tidak baik ada dalam hubungan ini.

Memasuki usia dua tahun mungkin bagi banyak orang masih tahap sebentar dibandingkan dengan mereka yang mampu berpacaran sampai lima tahun bahkan lebih. Iya betul, kalian hebat dapat mempertahankan hubungan kalian sampai selama itu. Kami butuh resepnya.

Bosan? Tidak juga, tidak mungkin aku bosan dengan wanita yang aku sayang. Namun perasaan apa yang sedang aku rasakan? Aku adalah orang yang sangat terbuka, apa saja aku akan ceritakan kepadanya. Beda dengan dirinya yang masih saja bisa menyimpan beberapa rahasia. Entahlah, mungkin prinsipnya tidak semua harus diceritakan, dan tidak semua dalam hidupnya harus aku ketahui.

Beberapa hari terakhir aku mulai merasakan kesal. Entah ini berlebihan atau tidak. Aku memang orang yang memiliki banyak aktivitas dan sangat sulit mengatur waktu untuk akhir – akhir ini. Tapi aku pernah berkata kepadanya, jika aku sudah berkata iya maka jawabannya adalah iya dan tolong jangan pernah ragukan jawaban iya tersebut. Andaikan memang aku harus menggugurkan jawaban iya tesebut, berarti memang ada hal yang lebih prioritas yang harus aku lakukan dan itu pun sepertinya jarang.

Sering kali aku ingin menjemputnya saat dia pulang kuliah.

“Nanti aku jemput ya pulang kuliah” Tanyaku.
“Aku pulangnya malem” Jawabnya
“Ya gpp, aku jemput ya”
“Aku pulangnya jam 10 lho. Mending kamu istirahat, besok kerja kan”
“Oke” Jawabku menyudahi percakapan.

Beberapa kali juga aku mengajaknya untuk melakukan aktivitas bersama.

“Sayang, besok aku libur. Nonton yuk” Tanyaku
“Lho bukannya besok kamu ada ketemuan sama teman kamu?” Jawabnya
“Ngga kok, kan bisa sorean”
“Nanti aja kalau waktunya oke, kita pasti bisa nonton”
“Oke deh”

Terkadang aku seperti merasa bersalah, dengan padatnya aktivitas membuat dia semakin tidak nyaman untuk berjalan denganku. Aku seperti tidak bisa memberikan waktu penuh untuk dia. Mungkin dia sering kecewa saat dia ingin sekali pergi kesuatu tempat dan aku sedang tidak bisa untuk ikut. Aku juga sebenarnya kecewa setiap dia ingin aku ajak dan dia tidak bisa, namun jawabannya yang aku mencoba berpikir secara positif. “Mungkin dia tidak ingin menggangu aktivitasku dan mungkin juga dia tidak ingin aku terlalu lelah. Sepulang bekerja langsung menjemput dia sepulang kuliah”

Memasuki musim dingin begitulah hubungan kami. Dingin dari melakukan setiap percakapan. Melalui chat atau bahkan bertemu secara langsung. Kami seperti tidak mengenal satu dengan yang lain. Aku seperti bingung ingin melakukan apa. Bahkan dalam proses menulis ini saja aku bingung ingin menulis apa lagi.

Dua tahun menjadikan kami seperti belajar mengulang saling mengenal satu dengan yang lain, yang seharusnya kami sudah sangat mengenal. Rindu hubungan ini seperti anak – anak dalam melakukan kenakalan, esok dia akan kembali bermain tanpa mengingat kesalahan teman bermainnya. Rindu hubungan ini kembali seperti cinta mula – mula dengan visi awal tujuan daripada pacaran adalah untuk saling mengenal satu dengan yang lain menuju mahligai rumah tangga, bukan malah sebaliknya.

Aku bingung harus bagaimana…..

Iklan

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s