BY MY SIDE

Posted: 31 Desember 2016 in Pacar
Tag:, , , , , , , , , , ,

anniversary-quotes-for-boyfriend-of-1-year

#Play By My Side ~ Maudy Ayunda feat David Choi

Jujur semakin kesini gue merasa semakin bodoh, bodoh dalam hal ingatan. gue menjadi pelupa, gak kaya dulu dimana moment berharga yang selalu bisa gue ingat. Tanggal ulangtahun, tanggal jadian, bahkan gue ingat tanggal putus sama mantan.
Memasuki usia tahun pertama gue bersama dia, mungkin ini yang dimaksud memperlakukan pasangan dengan kurang baik. Gue lupa tanggal jadian, lupa moment – moment bahagia, lupa dengan janji, bahkan suka sering telat kalo pengin ketemuan.

Padahal kalo dibilang pengalaman, gue udah malang melintang di dunia perpacaran. Mutusin, diputusin, itu udah kaya bagian dari skenario dalam berpacaran. Bahkan ada kalimat yang pernah gue denger kaya gini, “Kalo lo udah siap pacaran, berarti lo harus udah siap sakit hati”. Ya, itu juga yang udah gue rasain sih, jadi anak alay yang patah hati sama pacar terus gak makan dan males berangkat kerja. Tapi gak sampe siletin tangan ya. Huhuhu…. *itu mah bego*

Tiga tahun gak merasakan yang namanya pacaran dan Tuhan menuntut gue untuk lebih aktif dalam kegiatan rohani, membuat gue gak terlalu berpikir bahwa pacaran itu hal penting untuk saat ini. Klarifikasi aja, jadi rajin gereja bukan karena Jomblo ya.

Tuhan mempertemukan gue dengan seorang cewe berlagak tomboy, walau gue tau dia punya sisi feminim yang kuat, atau memang karena pergaulannya yang membuat dia merasa tidak terlalu peduli dengan kecantikan yang dia miliki.

Kita berbeda Empat tahun, waktu itu dia masih SMA dan gue sudah bekerja. Melihat anak cewe yang selalu riang, menjadikan gue ingin lebih dekat dan mengetahui resepnya. Berjalannya waktu gue dan dia menjadi semakin dekat dan perjalanan pun kita mulai.

Dia menghilang untuk melakukan sebuah pelajaran agama di Gereja tempat keluarganya beribadah untuk beberapa waktu –Gue sama dia beda gereja-, bahkan kami dari kepengurusan kategorial youth and teens sempat berkunjung kerumahnya untuk melihat kabarnya.  Karena kabar yang kami dapat adalah dia sudah lulus dari pelajaran agama tersebut, namun dia terlihat tidak terlalu rajin beribadah untuk saat itu.

Setelah itu, dia aktif kembali dan kami semakin dekat. Mengantarkan sebuah kado untuk anak dari seorang kakak rohani menjadi awal untuk kami menjadi sepasang kekasih sampai saat ini. Kami semakin sering membuat pertemuan dan rasa itu semakin bertumbuh dan semakin sulit dibendung, bahwa gue sayang sama dia.

Teman satu gereja -sekarang kita udah 1 gereja lagi- dan saudara disekitar bahkan mengatakan kalau kami sudah memiliki status. Tapi semua gue tampik karena memang belum ada status apa – apa. Semua masih menjadi sebuah pertemanan, sekedar bertemu dan ngobrol satu dengan yang lain.

Hari itu gue ungkapin semua perasaan dihadapan dia.

“Aku sayang sama kamu”
“Aku juga sayang kok sama kakak”
“Aku mau kamuu jadi pacar aku!”
“Maaf, aku cuma anggap kamu sebagai kakak”

Begitulah drama yang terjadi pada hari itu. Gue ditolak dengan drama KAKAKZONE. Dianggap sebagai kakak rohani yang memang bisa menjadi teladan bagi dia. Gue pulang dengan berat hati. Gue pulang dengan harapan kosong. Pikiran gue kotor, yang mungkin akan sangat mudah mendapatkan hati seorang wanita seperti dulu kala.

“GUE SAYANG SAMA DIA” Kata gue dalam hati.

Beberapa hari kemudian gue kembali menyatakan rasa yang gue miliki untuk dia. Jawabannya masih sama seperti yang diatas, dia belum bisa menerima gue sebagai seorang yang lain. Dia takut semua akan berubah ketika status kita berubah. Gue gak akan bisa lagi menjadi seorang kakak yang menasehati adiknya, gak bisa diajak cerita, dan pasti semua akan berubah menjadi gak asik.

Disini gue coba menekankan bahwa itu semua gak akan terjadi. Kita menjadi pacar bukan berarti kamu gak bisa cerita lagi sama aku, tapi itu membuat kita semakin mudah untuk saling bercerita. Kita menjadi pacar bukan berarti aku gak bisa nasehatin kamu lagi, tapi itu bisa membuat kita saling menasehati. Status kita berubah bukan menjadikan kita untuk ikut merubah pribadi kita.
Hari itulah -yang gue lupa sampai sekarang- gue berhasil meyakinkan hatinya dan menjadikan dia pacar sampai saat ini.

Gak sampai itu. Perbedaan menghantui kami, khususnya dalam publikasi. Gue sebagai ketua disebuah organisasi gereja gak pernah mau menyembunyikan hal berbahagia seperti ini dan dia memiliki pemikiran, bahwa status ini jangan dipublikasi sebelum dia siap.

Dengan rasa kesal awalnya gue pengin mengakhiri status itu, untuk apa kita menyembunyikan status kita kepada banyak orang, apalagi status kitu juga bisa membuat oranglain bahagia. Tidak ada yang tersakiti untuk hubungan kita. Tapi tidak semudah itu, sama seperti mendapatkanya. Jadi tidak semudah itu juga pastinya untuk melepaskannya.

Akhirnya semua harus terbuka, gue yakinin bahwa semua orang layak mengetahui status kita dan agar tidak ada gosip yang beredar. Ketika gue dekat dengan wanita lain atau pun sebaliknya. Publikasi bukan untuk menyombongkan tapi ada hal yang lebih dari itu. Publikasi itu ada untuk mengatakan STOP pada mereka yang menginginkan kamu menjadi milik mereka atau sebaliknya.

Mungkin timingnya sangat Akward, tapi semua memang layak tahu untuk status ini. Gue mengambil keputusan untuk mempblukasikannya di mimbar gereja saat youth and teens sedang mengadakan natal dan gue sebagai pengisi acara.

Berjalannya waktu, sudah banyak orang yang tahu akan status kami. Ternyata rintangan juga semakin banyak. Banyak hal yang terjadi, bahkan putus nyambung sudah kami lalui, dan perkara – perkara kecil yang membuat kami gusar sudah kami lalui.

Setahun bukan waktu yang lama tapi bukan juga waktu yang sebentar. Mengetahui pribadinya semakin dalam sampai saat ini juga serasa belum cukup. Masih perlu banyak waktu, sepertinya.

Dia adalah sesosok perempuan yang sangat perhatian, begitu juga karakter mengesalkannya sangat, sangat juga. Begitulah gue turut meyakinkan dia untuk tidak pernah pergi meninggalkan gue. “Aku menyayangimu itu satu paket. Sayangnya kamu ke aku, perhatiannya kamu ke aku dan juga sifat kepala batumu”.

Pagi aku katakan “I love you” di chat room, siang bisa menjadi kita saling berkata “I hate you” dan besok kita sudah kembali mesra. Begitulah rutinitas keseharian hubungan kami dalam setahun.

Terima kasih untuk 1tahun yang kamu berikan. Kasih sayang kamu, perhatian kamu, bawelnya kamu, ngambeknya kamu, dan banyak hal yang susah disebutin.

I normally wouldn’t say this

But i just can’t contain it

I want you forever right here by my side

All the fears you feel inside

And all the tears you’ve cried

They’re ending right here

I’ll heal your hardened soul

I’ll keep you oh so close

Don’t worry, i’ll never let you go

You’re all I need, you’re everything

ILOVEYOU RUTH BONITA

Thanks for one year by my side
Iklan

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s