adik kakak

Dua bulan belakangan ini gue agak terganggu dengan sikap adik perempuan gue yang masih belum gue mengerti kenapa dia bisa bersikap apatis kepada gue.

Tingkah lakunya semakin aneh, bersikap apatis kepada kedua abangnya yang tinggal di Jakarta. Ya, kami ngekost bertiga di ibukota Indonesia ini.

Lebih senang berbicara kepada oranglain daripada abangnya sendiri. Bahkan untuk meminta tolong, dia lebih baik berbicara kepada tetangga dari keluarga terdekat. Gue jadi berpikir, apa yang salah dalam diri gue? Untuk terlalu egois kayanya ngga. Gue berusaha adil dalam bertindak dalam segala hal, walau terkadang berat gue lakuin.

Seperti ketika gue menjemput pacar gue pulang dari kampus, ketika gue memang ada waktu pasti gue usahakan untuk menjemput dan pacar gue juga mengerti ketika gue tidak bisa menjemput dia. Apatisnya adik gue berlanjut ketika dia harus berangkat kerja jam 4 pagi, dimana shift pertama perusahaannya adalah jam 6 pagi di kawasan Senayan.

Jujur, memang untuk mengantarkannya ke Senayan gue nggak sanggup dan terlalu riskan dengan waktu yang mepet dengan jam kantor gue yang masuk jam 8 pagi. Bayangkan pergi – pulang Cakung – Senayan dan kemudian Cakung – Kemayoran untuk ke kantor.

Dan mata pun masih redup untuk bangun jam 4 pagi. Salah satu cara alternatif adalah dengan memesan ojek online yang bersedia kapan saja mengantarkan pelanggannya. Sikap apatisnya membuat gue kesal, bukan gue ingin dihargai berlebih, tapi apakah ketika orang mengerti maksud dalam pikiran lu dan lu butuh, lu berharap orang tersebut yang datang menghampiri dan memberikan pertolongan. Hidup gak bisa seperti itu. Ketika kita butuh, kita yang datang.

Sama seperti Tuhan. Kita semua pasti sepakat bahwa Tuhan tahu akan kebutuhan dan keinginan kita, tapi apa kita hanya berdiam diri menunggu semua kebutuhan dan keinginan itu datang dengan sendirinya? Tidak. Kita tetap harus meminta. Berkata – kata lewat doa.

Nah, begitu juga dengan manusia kepada manusia. Ketika kita butuh kita juga harus datang, minimal berbicara minta tolong agar ditolong. Sikap apatis itu semakin membuat gue geram, dia hanya mondar – mandir dan membuat sesuatu menjadi gaduh dan gue terbangun dari tidur.

Handphone dia error dan tidak bisa memesan ojek online. Karena gue tidak mau memperpanjang masalah dan membuat hal sepele ini menjadi hal besar di pagi yang masih sangat pagi ini. Akhirnya gue memesan ojek online untuk dia dan menunggu sampai ojek itu tiba dan menjemput adik gue.

Kadang gue merasa bersalah, ikut berbalik mendiamkan diri kepada dia. Tapi sikap apatisnya yang masih bisa belum gue terima. Dia bisa lebih dekat dengan oranglain tapi jauh dari keluarganya. Gue sudah berusaha untuk peduli dan perhatian, tapi dia tetap memilih apatis dan lebih dekat dengan oranglain.

Semoga dia bisa merubah sikapnya dan gue juga bisa belajar mengerti tentang dia. Gue gak mau menjadi berat sebelah, nanti dipikir gue lebih sayang kepada pacar daripada adik sendiri.

Gue sayang sama semua keluarga gue. Bokap, Nyokap, Abang dan semua Adik gue. Mungkin memang cara gue yang beda dengan oranglain untuk menunjukan cara kasih sayang gue. Tapi ketahuilah, sayang gue kepada kalian sangat mendalam. Gue gak pernah tega dan gue sedih ketika melihat kalian terluka atau dikecewakan oleh oranglain.

Bicaralah, dik. Aku akan dengar.

Kelanjutan Apatisnya.

Semalam pacar datang kerumah dan dia menghampiri ade gue yang lagi sendiri. Gue jadi semakin merasa tidak diakui sebagai abangnya ketika dia bisa akrab dengan pacar gue. Memang ada niat gue juga untuk menyuruh pacar gue mencari tau bagaimana hati daripada ade gue ini. Tanyain soal pekerjaannya dan semuanya yang dia tidak mau ceritakan kepada abangnya.

Malam itu hujan deras, kilat datang menyakmbar – nyambar. Banyak orang menumpang berteduh malam itu. Anak – anak muda yang sedang bermain juga ikut berteduh di depan teras kost kami. Akibat dari ini semua, gue harus tidur jam 12 malam, motor juga belum dimasukin takut hilang pastinya.

Kemudian pagi – pagi sekali, jam 4 pagi dia memebangunkan gue. Dia minta anter ke Shelterr Busway Pulogadung agar dapat menggunakan busway sebagai alat transportasinya menuju tempat kerja. Awalnya gue ngedumel dibangunkan sepagi itu, karena gue juga baru tertidur dan gue harus berangkat bekerja juga jam 7 pagi.

Sampailah kami di Pulogadung dan dia pun turun….
Turun tanpa mengucapkan sesuatu, tanpa sepatah kata pun.

Im not a Ojek.
Maybe u can say thank to me or u can say be carefull brother.

Yasudahlah. Gue pulang dan tidur lagi.

Fuck You!

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s