Hello December

Welcome December !

Dua kata ini menjadi trending topic dunia saat pada bulannya tiba. Memang hampir setiap bulan, nama – nama bulan ini menjadi trending topic setiap pergantian bulan. Entah apa yang membuat mereka sangat ber-uforia dengan setiap pergantian bulan. Padahal kalau pola pikir dan tingkah laku kita gak ada yang berubah disetiap bulan dan tahun, kan sama aja. Gak ada gunanya ganti bulan juga. Hanya mengalir mengikuti pergantiannya.

Tapi memang ada yang lebih beda dibulan Desember ini. Selain hari liburnya tidak pernah pindah tanggal dan banyak orang menginginkan libur yang panjang.

Desember identik dengan Natal. Kelahiran Raja diatas segala Raja, Yesus Kristus. Tuhan-nya kaum Kristiani, yang belum sah dianggap Tuhan sama orang sebelah. Gak usah munafik, coba tanya 10 orang disekitarmu tentang apa yang mereka pikirkan tentang Desember dengan cepat. Pilihan yang muncul adalah natal, tahun baru, libur panjang. Sekalipun misalnya ada libur lain di bulan Desember pasti kebanyakan orang tidak peka dengan libur itu. Misalnya seperti tahun ini, di bulan Desember 2015 natal yang sudah pasti tepat ditanggal 25 Desember disandingkan dengan libur tanggal merah 24 Desember yaitu Isra Miraj. Malah kebanyakan tidak tau ada libur apa ditanggal 24, temen gue malah bilang dia tetep masuk kantor biasanya tanggal 24, paling libur ditanggal 25. Memang biasanya tanggal 24 Desember adalah cuti bersama untuk para PNS namun kali ini tanggal 24 bukanlah cuti bersama, namun menjadi salah satu hari raya umat islam. Natal masih ada dihati dan pikiran banyak orang dan masih identik pada bulannya.

Permasalahan natal pun tidak kunjung selesai di negara Republik Indonesia ini. Dari jangan memaksa kaum muslim memakai atribut natal saat bekerja, dilarang mengucapkan “Selamat Natal” kepada kaum Kristiani, dan yang lain lagi mungkin saya tidak tau.

Permasalahan tentang memaksa mungkin benar salah, tapi saya kira tidak ada perusahaan yang memaksa para pekerjanya untuk memakai atribut itu. Lagi apalah artinya topi? Apakah kalian -umat muslim- akan langsung masuk neraka jika sudah memakai topi Santa Claus? Gue juga dulu pernah bekerja bahkan disekolah diharuskan memakai baju koko dan peci setiap Jumat sekolah dan saat Idul Fitri tiba. Have fun aja, toh itu hanya pakaian, tidak merusak dan mengubah pandangan gue terhadap identitas agama gue.

Permasalah tentang mengucapkan “Selamat Natal” juga aneh menurut gue. Terlalu berlebihan dan hampir tidak masuk akal. Pernyataan haram yang dikeluarkan oleh sejumlah ulama agak aneh, tapi saya memang tidak tau bagaimana pandangan dan kitab kalian tentang hal ini.

Apakah mengucapkan “Selamat Natal” seharam kalian makan atau menyentuh binatang seperti babi dan anjing? Gue juga sebenernya gak ada masalah untuk hal ini, temen kantor gue juga gak ada yang ngucapin selamat natal ke gue. Entah karena mereka takut berdosa atau memang mereka lupa karena liburan.

Tapi yang jelas, banyak temen gue yang berpikir jauh bahwa mengucapkan selamat natal adalah sebuah harmonisasi kita yang tinggal di sebuah negara yang majemuk, tinggal disebuah negara dengan banyak perbedaan.

Kalo kita dilarang bersentuhan karena bukan mukhrim, bagaimana kita bisa menolong orang tanpa bersentuhan? begitu juga dengan Yesus ketika menolong orang pada hari sabat, kalo menolong orang itu baik kenapa harus menunggu hari lain dan kenapa tidak hari ini?

Kalo saling menghargai, saling mengasihi, saling menghormati itu baik. Kenapa kita harus saling bertengkar?

Kalo mengucapkan selamat idul fitri dan mengucapkan selamat natal itu dapat membuat dampak yang luar biasa dalam perdamaian. Kenapa harus dilarang? Bukankah agama mengajarkan kita tentang kebenaran dan kebaikan?

 

Maaf jika ada yang tersinggung. Saya hanya mengeluarkan apa yang ada dipikiran saya dan itu yang terjadi dilingkungan saya berada. Mari kita buat perdamaian dari diri sendiri, lingkungan terdekat dan seluruh dunia.

Komentar
  1. Perspektif mengatakan:

    permasalahan yang mungkin mengakar adalah ketika perspektif budaya, agama, sosial dan perspektif lain yang mungkin muncul bercampur menjadi satu dan mengkeruhkan pola pikir kita.

    Suka

    • Hariandi LD Siahaan mengatakan:

      Belum lagi terlalu mudahnya masyarakat Indonesia terpengaruh oleh media dan orang ternama. Padahal belum tentu yang diberitakan dan dikatakan orang ternama tersebut benar.
      Jalan keluarnya adalah memakai pola pikir sendiri dibantu hikmat dari Tuhan.🙂

      Suka

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s