SMP Jilid VII

Posted: 30 Juli 2015 in Uncategorized
Tag:, , , ,

Memasuki kelas tiga SMP kesulitan ekonomi mendera keluarga Gue pada tahun itu. Bahkan untuk pembayaran uang daftar ulang banyak sekali memakai uang lembaran seribuan. Tapi gapapa lah untuk kegiatan Bu Guru menghitung dan merapikan uang.

Saat murid kelas satu sibuk dengan masa MOS kami yang naik kelas sibuk mencari dimana kelas kami yang baru. Berkeliling mencari nama diselembar kertas yang di tempelkan di depan kelas masing – masing. Kepala secara irama mengikuti mata yang naik turun mencari nama sendiri dan hati terus menyebutkan banyak sekali nama – nama orang. Dan yang pada akhirnya ditemukan bahwa dikelas tiga . dua ada seseorang bernama Andi.

Bersama teman baru dan sebagian lagi stok lama. Teman dikala kelas satu dahulu pernah bersama kini bertemu lagi dikelas yang sama. Wali kelas mulai memasuki kelas kami dan sambil mengenalkan dirinya sendiri dan kemudian memanggil nama kami satu persatu sebagai daftar absensi.

Sepertinya Wali kelas kami ini ingin gerak cepat. Seperti gerak cekatan Ahok dalam memilih pejabat – pejabat dibawah kekuasaannya. Wali kelas kami menggelar pemilihan langsung ketua kelas, wakil, sekretaris dan bendahara kelas. Dan tidak harus menunggu lama terpilihlah seorang wanita perkasa yang akan memimpin kelas kami. Sebut saja namanya Cheese. Wanita yang tidak terlalu tinggi yang menjadi pemimpin dikelas kami. Dengan kulit hitamnya yang manis membuat ketua kelas ini menjadi salah satu idaman seorang pria.

Setelah menentukan Pemimpin kami dikelas, Bu Guru kembali mengintruksikan agar terjadi perpindahan tempat duduk. Karena ditakutkan terjadi sengketa pembodohan dikelas ini. Takut terjadinya pengkotak – kotakan pertemanan. Akhirnya keluarlah sebuah denah dengan kemudian kami maju satu persatu untuk mengambil nomor urut tempat duduk kami masing – masing.

Gue duduk di nomor kursi 13 -seperti angka sial-. Dan kemudian Gue ditemani seorang pria bernama Legi dengan nomor urut 14. Begitulah seterusnya sampai semua kursi penuh dengan 30 orang.

Semakin hari dan semakin hari. Gue sudah seperti semakin jauh dengan Joko. Gue sudah mulai bisa mendapatkan teman baru walau tidak sebodoh dan sepopuler dia. Kita sudah jarang bahkan hampir sudah tidak pernah lagi pulang bersama. Dia sudah mulai aktif dengan timnas basket sekolah dan ikut komunitas kelas menengah di sekolah kami. Seinget Gue seperti komunitas otomotif.

Memasuki kelas tiga seperti tidak ada lagi untuk bercanda dalam belajar dan seperti itu kebanyakan umumnya sebuah sekolah. Karena kelas tiga adalah puncak untuk menentukan kelulusan dan untuk melanjutkan ke sekolah berikutnya.

Saat itu kami semua sudah selesai mengikuti pelajaran olahraga. Kami naik ke kelas dan di perintahkan untuk mengganti baju olaharga menjadi seragam putih biru. Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran agama. Sebagian siswa.. Mungkin cenderung lebih ke hampir semua. Hampir semua murid di kelas belum ada yang mengganti pakaiannya. Bahkan masih ada yang berada dilapangan basket. Pak Guru pun masuk dan sebagian murid lekas bergerak menuju toilet untuk mengganti baju, sebagian lagi cuek untuk tidak menggantinya. Gue termasuk yang ikut – ikutan tidak mengganti baju.

Dengan alasan bukan pakaian untuk belajar di dalam kelas Pak Guru tidak mau mengajar kami sebelum semua murid mengganti pakaiannya dengan seragam putih biru. Takut nilai agama kami buruk. Gue dan sebagian lagi dengan terburu – buru berlari menuju toilet untuk megganti pakaian kami. Tapi namanya manusia tetap saja ada yang bebal. Saat Gue masuk ke kelas seorang teman sedang berdebat dengan Pak Guru karena dia tidak mau mengganti pakaiannya.

Dengan amarahnya Pak Guru meninggalkan ruang kelas dan tidak mengajarkan agama dikelas kami pada saat itu. Tidak lama kemudian Ibu Kepala Sekolah masuk dengan wajah siap memarahi kami semua.

“Ganti baju kalian semua!” Teriak Ibu Kepala Sekolah

Dengan sigap semua yang belum mengganti seragam melompat dan berlari menuju toilet untuk mengganti pakaian. Kami yang sudah mengganti pakaian sempat tertawa kecil.

“Kenapa Ketawa? Kalian itu sama saja. Kalau guru tidak marah tidak ada yang mau taat”

Dan kami pun terdiam.

Mungkin Pak Guru sadar dan tau bahwa Tuhan mengajarkan kepada UmatNya untuk tidak memiliki dendam kepada yang lain. Itu semua dituliskan di dalam Alkitab. Tanpa sepatah kata Pak Guru kemudian masuk kedalam kelas dan menuliskan halaman buku yang harus kami kerjakan.

Hari itu kami diajarkan untuk mau belajar taat kepada peraturan yang ada dan hal paling indah adalah Pa Guru tidak marah kepada kami semua. Dia menilai hasil kerja kami sesuai dengan apa yang kami kerjakan. Begitupun dengan teman kami yang berdebat dengannya. Dia berikan nilai sesuai dengan hasil kerjanya tidak dikurangi dengan nilai kesopannya yang kurang. Tidak sama sekali dikurangi dengan kenakalan kami.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s