Cinderella dari Bekasi

Posted: 15 Juni 2015 in Uncategorized
Tag:, , , , , , ,

Pada suatu hari hiduplah sepasang suami – istri dengan segala kekurangan. Ketika itu hujan lebat menerpa suatu daerah, yang dikenal dengan Bekasi. Sang Istri sedang hamil tua, dan kemudian merasakan kontraksi saat itu juga. Sang suami dengan sigap mencari pertolongan agar bisa membawa sang istri ke rumah sakit dengan secepatnya. Saat itu ada tukang becak melintas dan kemudian sang suami memanggilnya. Dengan penuh kehatian sang suami membawa sang istri naik ke atas becak. Hujan lebat membuat keadaan seperti sinetron hidayah di Indonesia saat itu. Abang becak terus mengayuh ditengah derasnya terpaan hujan. Becak yang diberi tirai plastik berwarna putih didepannya tidak cukup untuk mencegah air hujan masuk ke dalamnya. Alhasil sang suami dan istri pun tetap basah di dalam becak tersebut. Sang istri terus berteriak merasakan kontraksi, seperti ingin segera melahirkan tapi rumah sakit yang dituju belum juga dekat.

Lima belas menit kemudian akhirnya becak pun sampai didepan sebuah rumah sakit di Bekasi. Dengan cepat sang suami membopong sang istri masuk ke dalam rumah sakit untuk Β diminta pertolongan segera. Waktu itu BPJS belum ada jadi pertolongannya cepet, mungkin pikiran pihak rumah sakit bisa dibayar cash. Masuklah sang istri ke ruang persalinan dan dengan segala prosesnya lahirnya bayi wanita cantik dengan masih kemerahan.

“Maaf. Bapak dipanggil pihak administrasi” kata seorang suster
“Oh iya ibu saya aka segera kesana”

Sang suami segera bergegas meletakkan anak pertamanya itu kembali ke pelukan sang ibu dan berjalan dilorong rumah sakit menuju ruang administrasi.

“Permisi. Tadi katanya saya dipanggil oleh pihak administrasi?” Tanya Sang suami
“Apa bapak, suami dari ibu yang melahirkan barusan?” tanya sang admin
“Iya bu”
“Maaf nama bapak siapa?”
“Nama saya Tono”
“Nama istri bapak?”
“Nama istri saya Angel”
“Maaf bapak. Ini nota yang harus bapak bayarkan atas proses persalinan dirumah sakit ini”
“Nanti saya kembali lagi ya bu”

Melihat nota yang harus dibayarkan Pak Tono seperti tak sanggup. Belum lagi uang untuk keperluan sang bayi sampai ia besar. Pak Tono yang bekerja sebagai buruh serabutan semakin kalut, matanya berderai airmata. Disaat bahagia menyambut anak pertama tapi benyak kesedihan dalam menyambut hari lahir anaknya.

Pak Tono bergegas menuju ruang persalinan dan kemudian berbicara kepada sang istri mengenai hal ini dan mereka semakin tidak bisa membendung airmata. Apa yang harus mereka lakukan agar bisa membawa bayi mereka pulang ke rumah?

Memasuki hari ketiga, hari terakhir perawatan bayi dan ibu dalam persalinan normal di sebuah rumah sakit. Pak Tono semakin bingung harus melakukan apa. Karena jika mereka tidak keluar dari rumah sakit itu maka biaya yang harus dikeluarkan akan semakin membengkak.

“Pak kalo belum bisa bayar uang rumah sakit mending anaknya di serahi ke orang aja” Kata seorang suster yang sedang merapikan kamar mereka.
“Ibu..!! Ibu seorang perempuan. Bagaimana jika nanti anak ibu di ambil aloh oleh orang lain? Gak punya perasaan” jawab Pak Tono dengan kesal.
“Saya sih kasih ide aja pak. Di luar sana lagi ada seorang bule sedang mencari anak asuh. Ya nanti ketika sudah besar bapak ambil lagi anaknya. Bapak tinggal bikin perjanjian tertulis aja. Saya sih kasih ide aja daripada bapak disini terus malah semakin mahal. Anak bapak juga gak terurus. Malah kasian kan bayinya” kata suster tersebut sambil melangkah keluar.

Pak Tono dan Bu Angel pun saling bertukar pikiran saat itu dan kemudian mereka menyetujui saran daripada suster tersebut. Pak Tono kemudian mencari keberadaan suster tersebut untuk meminta mengantarkannya bertemu dengan bule yang dimaksud.

Tidak perlu waktu lama yang dibutuhkan suster itu untuk menemui bule tersebut, karena dia memang sedang berada diruangan bayi sambil melihat bayi – bayi tertidur. Kemudian suster itu berbicara empat mata dengan bule tersebut yang sepertinya sudah fasih berbahasa Indonesia dan tidak lama kemudian datang menghampiri Pak Tono yang sedang menunggu.

“Pak Tono ini Pak Peter” Kata suster tersebut mengenalkan sang bule
“Hi Sir. Saya Peter”
“Iya Pak. Saya Tono”
“Saya tinggal dulu ya”
“Saya sudah mendengar cerita bapak dari suster itu. Saya cukup prihatin dengan keadaan bapak”
“Terima kasih pak”
“Kalau melihat keadaan seperti ini, saya seperti tidak tega untuk mengadopsi anak bapak. Apalagi ini adalah anak pertama kalian. Pasti kalian sudah sangat merindukan kehadirannya”
“Tapi keadaan kami sekarang sudah sangat sulit. Sulit bagi keluarga kami untuk membesarkannya”
“Jadi bagaimana?”
“Saya izinkan bapak mengadopsi anak kami tapi tolong jangan pernah larang kami untuk bertemu dengannya”
“Oke. Ada lagi?
“Saat umurnya 18 tahun biarkan dia mengetahui siapa ayah dan ibu kandungnya”
“Tidak masalah. Saya bisa melihatnya bahagia dengan siapa pun nantinya pasti saya ikut berbahagia”

Akhirnya dihari ketiga itu Sir Peter membawa pulang anak Pak Tono dan Ibu Angel pulang. Sir Peter memerintahkan anak buahnya untuk mengurus segala dokumen untuk keperluan sang Bayi.

Sir Peter sangat bahagia kala itu walau bayi yang di inginkannya berbeda dari yang dia cari. Sir Peter mempunyai dua anak perempuan dan seorang istri, Maksud Sir Peter adalah ingin mengadopsi seorang anak laki – laki namun pertemuan dengan Pak Tono membuatnya tidak masalah mengadopsi anak perempuan.

“Anak ini sangat cantik. Apa nama yang bagus untuk keluarga baru kita ini? Tanya Sir Peter kepada kedua anak perempuannya dan istrinya
“Ya dia sangat cantik seperti malaikat. Kenapa tidak kita berikan dia nama Angel?” Kata anak pertama Sir Peter
“Tapi ibunya bernama Angel juga” jawab Sir Peter
“Kita tambah menjadi Angelina” Jawab anak kedua Sir Peter
“Ya Angelina. Nama yang sangat cantik” Jawab Sir PeterΒ “Bagaimana Mom?” Sambung Sir Peter bertanya kepada istrinya.
“Terserah kalian saja. Kamu yang megadopsinya. Kamu yang bertanggung jawab mengurus dia sampai besar” Jawab Mrs. Peter sambil berlalu menuju kamar.

Beberapa waktu kemudian Sir Peter dan Keluarga pindah rumah ke Bali. Sir Peter semakin sibuk dengan urusan bisnisnya, bahkan beberapa kali Sir Peter tidak pulang ke rumah. Pak Tono dan Bu Angel tidak bisa melihat anaknya lagi karena jarak yang cukup jauh. Bahkan Saking sibuknya Sir Peter, dia tidak sempat berkomunikasi dengan Keluarga Pak Tono untuk memberi tau kabar dari anaknya.

Semakin bertumbuhnya Angelina, semakin sayang Sir Peter kepada anak angkatnya itu. Begitu juga dengan kakak tirinya, sangat sayang kepada Angelina. Saat itu Angelina berumur lima tahun dan ditinggalkan Sir Peter pergi jauh untuk urusan bisnis sampai – sampai beberapa bulan tidak pulang. Mrs. Peter yang terlihat tidak senang dengan keberadaan Angelina sering memukulinya ketika Sir Peter tidak ada di rumah. Bahkan Mrs. Peter bisa tidak memberinya makan sampai beberapa hari kalau Angelina terlihat nakal di depan penglihatannya.

Beberapa waktu ketidak pulangan Sir Peter. Pihak keluarga menerima telfon dari seseorang mengatasnamakan pihak rumah sakit.

“Halo dengan keluarga Sir Peter?” Tanya seseorang dari kejauahan
“Ya saya Mrs. Peter istrinya”
“Maaf saya harus memberitahukan berita duka ini kepada ibu lewat telfon. Sir Peter telah meninggal akibat serang jantung yang dia alami semalam”
“…”
“Halo… Mrs? Halo….”
“….”

Sir Peter pun meninggal ketika Angelina masih berumur lima tahun. Tapi ada banyak hal yang di tinggalkan Sir Peter untuk keluarganya termasuk Angelina sebagai anak angkat. Maka pengacara dari Sir Peter datang untuk menemui keluarga Sir Peter di Bali untuk menyerahkan segala dokumen yang diperintahkan Sir Peter ketika dia meninggal.

“Halo Mrs saya pengacara Sir Peter ketika beliau hidup dan saya ingin menyampaikan amanat beliau kepada Mrs dan anak – anak beliau” Kata sang Pengacara sambil menyerahkan semua dokumen yang ada.
“Terima kasih Sir”
“Jika ada yang tidak mengerti bisa tanyakan kepada saya sekarang juga. Karena saya harus pulang malam ini juga ke Jakarta”
“Sepertinya tidak ada”
“Oh iya saya yang lupa. Ini dokumen yang sangat penting bagi beliau. Ini dokumen tentang Angelina dan ini sangat berharga. Copy-an-nya ada pada saya jika suatu nanti ada yang bertentangan dengan dokumen ini. Silahkan Mrs baca dan tanyakan jika ada yang ingin ditanyakan pada dokumen ini”

Mrs. Peter terus membaca surat wasiat dari Sir peter dengan seksama. Mulutnya terus berkomat – kamit tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wajah Mrs. Peter seperti ingin marah, terlihat dari ekspresi wajahnya yang memerah seketika.

“Ini pasti dokumen palsu..!!” Kata Mrs. Peter sambil membanting semua dokumen ke atas meja.

“Ada yang Mrs tanyakan atau komentari tentang dokumen ini?” Jawab sang pengacara dengan tenang.

“Apa maksud dengan dokumen ini semua? Saya harus menyekolahkannya sampai ia lulus kuliah dan ketika berumur 18 tahun saya harus memberitahukan siapa orangtua kandungnya. Saya tidak tau siapa orangtua dia, yang saya tau Sir Peter membawa dia ketika dia masih bayi. Dan dokumen ini sangat tidak masuk akal. Semua harta kami diserahkan kepada Angelina dan kecuali Angelina meninggal baru haryta itu milik kami. Kami adalah keluarga Sir Peter. Tidak mungkin Sir Peter memberikan hartanya kepada anak yang bukan anak kandungnya!”

“Maaf Mrs untuk hal itu saya tidak bisa menjelaskannya secara detail karena semua dokumen itu adalah Sir Peter yang menuliskannya sendiri. Dokumen ini sudah ada ketika Angelina berada dirumah Mrs”

“Baiklah. Silahkan pergi dari rumah ini sekarang”

“Terima kasih Mrs. untuk waktunya. Semoga kalian bisa menerima ini semua. Dan ingat jaga Angelina. itu perintah dari Sir Peter”

Melihat dokumen yang berserakan semakin membuat Mrs. Peter memendam amarah. Mrs. Peter memanggil Angelina untuk merapikan semua yang berserakan. Saat Angelina berusaha merapikannya, sesekali Mrs. Peter menjambak rambut Angelina yang membuat Angelina merasa kesakitan dan membuat semua dokumen yang sudah dirapikan kembali berserakan. Banyak alasan yang dibuat Mrs. Peter untuk menghukum Angelina.

Tiga tahun berlalu dari kematian Sir Peter. Angelina sudah menginjak kelas 2 SD. Tubuhnya yang kurus dan tidak terawat seperti tidak menandakan bahwa dia adalah anak dari seorang konglomerat di Indonesia. Sering kali Angelina pergi ke sekolah dengan baju lusuh bahkan bau seperti tidak mandi. Kadang terdapat bekas lebam di sekitar tangannya.

Angelina tidak menikmati masa kecilnya dengan bahagia ketika Sir Peter sudah meninggal. Angelina mengalami suatu perubahan sangat besar, terbalik 180 derajat ketika dia masih bayi dan Sir Peter masih hidup. Angelina lebih seperti babu kecil yang di angkat oleh keluarga kaya.

Sore itu Angelina sedang bermain di halaman rumah mereka. Mrs. Peter masih melihatnya dengan jelas ketika itu. Kemudian Mrs. Peter menyuruh anaknya untuk memanggil Angelina segera masuk karena hari sudah mulai gelap.

“Mom.. Angelina tidak ada di halaman”
“Tadi mami masih liat kok dia main disitu”
“Kemana dia pergi?”

Sejak saat itu Angelina hilang dengan misterius. Kedua kakaknya mencoba menghubungi polisi dan mencoba membuat poster orang hilang agar banyak orang bisa membantu menemukan Angelina.

Komentar
  1. pu3marlina mengatakan:

    Sudah kuduga, ditunggu ya next episode nya

    Suka

  2. Hariandi LD Siahaan mengatakan:

    Sinetron kali ah bersambung….

    Suka

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s