SMP Jilid V

Posted: 15 Mei 2015 in Uncategorized
Tag:, , , , , ,

Beberapa bulan sudah kami berada dikelas dua ini. Sudah cukup bagi kami untuk saling mengenal. Mengenal satu sama lain, walau mungkin kami hanya mengenal sekedar nama. Belum cukup dalam untuk mengenal nama orangtua mereka. Buat bahan celaan.

Sebangku dengan Joko memang adalah hal yang menyenangkan. Entah memang menyenangkan atau memang hanya itu niat dia ke sekolah. Entahlah biar Tuhan yang tau, yang jelas dia memang sosok yang menyenangkan. Seorang pria dengan kejagoannya bermain basket dan rambut gondrong, memang layak mendapat puja – puji dari kaum hawa.

Banyaknya kaum hawa yang mengenal sosok Joko membuat gue juga mengenal nama – nama wanita itu. Dahlia salah satunya. Gue mengenal nama itu dari Joko dan memang Dahlia sering juga ke kelas kami untuk bertemu temannya ketika dikelas satu, yaitu Melati dan Zefa. Joko sering menggodanya menjadikan Joko cukup mengenalnya.

Waktu itu nama Dahlia banyak menjadi perbincangan disekolah. Gosipnya Dahlia berpacaran dengan anak SMA disekolah kami. Jujur, gue kurang bergaul dan hampir tidak peduli dengan gosip murahan disekolah. Apalagi hanya sebatas pacaran, belum masuk untuk dicerna oleh otak gue. Belum mengerti apa arti pacaran dan bagaimana cara mendapatkan pacar. Gue pikir lebih menarik membahas sepakbola dengan teman – teman yang menyukai sepakbola.

Suatu malam tempat tongkrongan gue kedatangan seorang cowo. Cowo dengan rambut mohawk, berbadan kurus dan memakai jaket kulit dengan tunggangan motor Ninja datang ke arah kami yang sedang asik bernyanyi dan bergitar ria. Dina menyambut cowo itu dan berbicara agak jauh dengan kami. Dina adalah seorang cewek berbadan sintal, kulit putih dan tinggi sekitar 155 cm. Dina bersekolah ditempat yang sama dengan gue bedanya Dina sudah SMA.

“Siapa Din?” Tanya gue sekembalinya dia ketempat tongkrongan

“Temen SMA gue, minta dikenalin cewek. Gue kenalin aja sama Elis. Elisnya juga mau. Haha…”

“Jadi itu dia mau ketemu Elis?”

“Iyalah”

Seakan tidak terlalu peduli dengan urusan mereka. Gue lanjut bernyanyi dengan teman – teman yang lain, walau sesekali melihat ke arah sang cowo. Esok harinya gosip tentang Dahlia semakin menyeruak dilantai tiga. Anak wanita asik memperbicangkan hubungan oranglain, saking asiknya mereka menggosip tercuatlah nama seorang lelaki yang katanya pacar dari Dahlia, yaitu Rizki.

Semakin hari Elis lama tidak berkumpul dengan kami teman – temannya. Setiap malam minggu Elis asik dengan pacar barunya yang selalu datang kerumah dan mengobrol di teras rumah Elis. Sesekali kami mengejek mereka juga agar ada bahan candaan ditempat kami berkumpul.

“Din, itu cowo namanya siapa? Temen sekelas lu kan?” Tanya gue kepada Dina

“Rizki. Kenapa emang? Naksir lu. Haha…” Jawabnya mengejek.

“Siapa!? Siapa namanya?” Tanya gue terkejut

“Rizki! Kenapa sih Lu?”

“Gapapa. Iam fine” Jawab gue coba menenangkan diri

Besoknya dengan segala kepolosan, gue menceritakan ini semua kepada Joko ketika pagi disekolah. Sialnya teman – teman lain malah menakut – nakuti gue karena hal ini. Mereka pikir ini semua adalah kebohongan gue. Tapi memang bodohnya gue adalah tidak memastikan dulu siapa Rizki pacarnya Elis dan siapa Rizki pacar dari Dahlia.

“Mampus Lu Ndi ntar dipukulin sama Rizki. Udah gosipin dia selingkuh” Kata Parno menakuti

“Lah gue cuma bilang yang gue liat. Lagi emang dia siapa mau mukulin gue” Jawab gue sok berani

“Dia anak motor, bego!” Kata Parno dengan tegas. “Mampus Lu pulang sekolah ntar. Haha…” Sambung teman yang lain.

“……”

Dalam keheningan pelajaran Matematika gue terus memikirkan apa yang dikatakan Parno. Jantung gue semakin berdetak kencang, wajah memucat pasi, bahkan mulut gue mulai bergetar ketika berbicara. Ditengah keheningan, bel berbunyi yang menandakan jam istirahat kedua. Semua murid berbaur keluar untuk menuju kantin.

“Ngomongin apa lo tentang pacar gue? Hah!” Kata seorang wanita ketika gue keluar pintu kelas.

“Ngomong apaan?” Jawab gue bergetar

“Ngomong apaan lo!? Jawab!” Katanya sambil mendorong badan gue ketembok samping pintu kelas dan sambil menarik baju gue.

“Maksudnya apaan dulu? Gue gak ngerti” Jawab gue tertatih dan hampir mengeluarkan air mata

“Gak usah sok lugu lo njing!” Katanya sambil menunjuk muka gue dengan telunjuknya. “lo cerita apaan sama orang – orang tentang Rizki?” Sambungnya membentak yang membuat para siswa datang berkerumun.

“Gue gak cerita apa – apaan” Jawab gue sambil berusaha melepas tanganya dari kerah baju gue.

“Lo mau ngomong atau lo mampus di abisin Rizki dan teman – temannya pulang sekolah?” Katanya mengancam

“Rizki pacaran sama temen gue dirumah” Jawab gue dengan kaki lemas

“Lo bohong! Abis lo!” Ancamnya yang kemudian meninggalkan gue menjadi tontonan para murid lainnya.

Perasaan gue mulai tidak nyaman, jantung pun berdetak semakin kencang dan gue putuskan untuk tidak turun ke kantin siang itu. Ngeri dengan apa yang akan mereka lakukan nanti kalau gue bertemu dengan Rizki. Pikiran gue semakin kacau ditambah lagi perkataan teman – teman yang lain menambah nyali gue semakin ciut untuk keluar dari kelas ini. Seakan mau menangis dan seperti sampah. Dimaki – maki seorang wanaita di depan umum ketika gue hanya berbicara apa adanya. Sebagai manusia, gue juga kecewa, entah kenapa semua perbincangan gue dengan Joko bisa sampai ke telingan Dahlia. apa ada yang medengarnya kala itu atau malah Joko sendiri yang memberitahu Dahlia.

Bunyi bel yang menandakan pulang sekolah bukan membuat gue senang malah membuat perasaan gue morat – marit. Pengen rasanya meminjam pintu kemana saja Doraemon agar bisa langsung sampai dirumah tanpa harus turun melewati lantai dua, dimana itu adalah kelas anak SMA berada. Coba menenangkan diri dan turun perlahan dan jalan menuju gerbang sekolah dan langsung menaiki angkot yang berhenti tepat di depan sekolah. Hari ini gue harus pulang terburu – buru tanpa harus jajan bersama teman – teman atau bermain bola dulu sebelum pulang kerumah masing – masing.

“Apa selamanya gue bisa menghindar seperti ini? Gue masih satu tahun lagi disana sampai kelas tiga. Gak boleh seperti ini terus. Gue akan coba menghadapi semuanya” Kata gue dalam hati.

Esok harinya gue coba menenangkan diri ketika berangkat sekolah. Seolah – olah tidak terjadi apa – apa. Gue coba untuk tidak takut menghadapi masalah. Dan semuanya tidak terjadi. Gue masih sehat bahkan sampai gue menulis kisah ini.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, Rizki sudah mulai tidak terlihat lagi main ke rumah Elis dan Dahlia sudah mulai bersikap biasa saja ketika datang bertemu dengan Melati dan Zefa ke kelas gue. Walau tidak menegur gue tapi setidaknya tidak ada lagi pemakian untuk kedua, ketiga dan seterusnya.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s