SMP Jilid II

Posted: 30 April 2015 in Uncategorized
Tag:, , ,

Memasuki bulan aktif belajar gue tetep belum punya banyak temen. Keliatannya mereka masih asik dengan teman mereka ketika SD yang bersekolah sama disini. Ketika jajan pun begitu, gue sendiri turun ke kantin dan kadang beberapa orang ngeliatin gue dengan sudut pandang aneh. Mungkin mereka pikir ada alien yang lagi sekolah.

Hari ini pelajaran olahraga dan gue sangat Excited untuk mengikutinya. Ganti baju dan langsung turun ke lapangan basket dihalaman sekolah kami. Setelah semua murid berkumpul dan berbaris, Pak Guru mengintruksikan kami untuk melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10x dan kemudian melanjutkan gerakan peragangan otot.

Bola basket sudah berserakan kemana – mana. Banyak murid yang sudah melakukan shooting – shooting ke dalam ring padahal kegiatan inti belum diizinkan. Setelah itu Pak Guru membagi pria menjadi dua kelompok dan wanita duduk dibawah pohon sambil ngerumpi. Mungkin ada yang bahas Joko.

Dengan sepengetahuan yang minim tentang bola basket. Gue coba untuk memainkannya dengan sungguh – sungguh walau malah terlihat norak. Dan 30 menit berlalu, banyak para murid berlarian ke kantin untuk beli minuman atau beli gorengan bahkan beli mie goreng -sayang gak jual nasi-.

Dengan uang jajan yang minim gue coba maksimalkan. Gue cuma membeli air mineral sebotol, karena ini belum waktunya istirahat. Nanti kalo jam istirahat duit udah abis, mau jajan pake apa. Sebagian murid ada yang masih asyik melakukan shooting, rebound, lay up, dll.

Melihat main bola basket kayanya asik juga. Gue coba ikut bergabung dan ikut dalam perebutan bola. Ketika beberapa kali melakukan shooting tiba – tiba bola yang gue lempar beradu di udara dengan bola yang lain. Dan tiba – tiba teman gue marah dan dia melempar gue dengan bola basket. Bukan sekali tapi teman – teman cowo yang lain juga ikut melempari gue dengan bola basket. Seketika itu juga gue nangis. Iya, gue nangis. NANGIS. Gue cemen, tapi sakit. Udah nangis di sorakin pula. Sakit pula.

Selanjutnya gue tidak ikut bermain lagi tapi menepi dibawah pohon. Kemudian ada beberapa perempuan yang mungkin iba -cenderung kasihan- melihat gue dan bertanya kenapa gue menangis. Setelah itu mereka -para wanita- melanjutkan aksi gosipnya dan meninggalkan gue sendiri dibawah pohon.

Dibawah pohon gue menangis meratapi nasib, lalu turun hujan, petir menyambar – nyambar. Air hujan menutupi tangisan gue. Tapi ini semua belum berakhir.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s