SMP Jilid I

Posted: 28 April 2015 in Uncategorized

Lulus dari SD dengan kesotoyan yang luar biasa dan menghasilkan nilai gue untuk tidak memungkinkan masuk ke sekolah Negeri. Di detik – detik terakhir menuju ajaran baru. Mama berbicara dengan seorang temannya dan yang kemudian memberitahukan ada sekolah swasta yang masih membuka pendaftaran gelombang terakhir.

Memasuki sekolahnya dan mulai melakukan pendaftaran dan kemudian gue harus melakukan test untuk bisa bersekolah disitu.

“Kamu test yang benar. Kalau kamu gak lulus juga test ini. Gak tau lagi Mama mau sekolahin kamu dimana”

“Iya ma”

Beberapa hari kemudian hasil test sudah keluar dan sudah ada di mading sekolah. Mama gue dengan teliti mencari nama gue dan terus sampai berulang kali. Sampai kepalanya naik turun.

“Nama kamu gak ada. Gak tau lagi lah kamu mau mama bikin sekolah dimana” Kata Nyokap lemes

“Masa sih ma?” Jawab gue shock.

Karena tidak percaya maka gantian gue untuk melihat hasil test tersebut. Mungkin mata orangtua kurang awas.

“Nah ini ada kok ma” Kata gue yang ikutan lemes

“Puji Tuhan”

Asal tau gaes muka gue disitu udah pucat pasi cenderung basi. Otak gue udah awut – awutan mau sekolah dimana gue kalo gak diterima di sekolah ini.
Belakangan gue tau katanya test itu cuma formalitas aja. Temen – temen yang lain malah isinya asal – asalan. Ngedrop lagi :l

Memasuki masa awal sekolah dilalui dengan MOS atau Masa Orientasi Siswa. Semua sama layaknya anak baru disini tapi mungkin sebagian ada yang beruntung karena mereka lulusan dari SD sini juga dan mereka sudah mengenal lingkup sekolah ini. Karena sekolah gue 1 yayasan ada dari TK – SMA.

Perintah dari kakak kelas adalah membawa tas dari plastik, kaos kaki beda warna, gantungan nama dan membawa buku. Dan itu kami lakukan selama 3 hari masa MOS. Selama masa MOS sambil kami mengenal ruang lingkup sekolah kami juga ditugaskan mencari 100 tanda tangan kakak kelas dan 10 tanda tangan guru. Bila itu tidak berhasil maka kami harus membeli coklat untuk kakak – kakak OSIS.

3 hari sudah lewat dan tugas dikumpulkan. Maka gue harus membeli coklat untuk mereka yang baik hati. Syukur karena mereka tidak melakukan kami dengan kejam seperti kebanyakan di televisi. Kemudian kami dibagi kelas untuk proses belajar mengajar.

Saat memasuki kelas. Gue agak bingung dengan keadaan kelas yang sepi hanya 5 orang yang berada dikelas dan saling bercanda tapi hampir semua kursi sudah ada tasnya. Tinggal 2 kursi yang kosong dibarisan paling pojok dibagian tengah dari lurusan meja guru. Mungkin mereka sedang keluar jajan atau takut dan tidak mau ditinggal oleh orangtuanya. Hahaha…..

Memasuki jam pelajaran pertama dan semua siswa sudah masuk dan sial karena beberapa orang yang gue kenal -kenalan waktu MOS- harus terpisah oleh tembok – tembok sementara ini. Asing bagi gue kelas ini. Bahkan sangat mengerikan. Bisa dibilang cuma gue anak dari 1 SD yang bersekolah disana. Padahal yang lainnya minimal ada 2 orang yang 1 SD bersekolah disana. Dan lebih kampretnya lagi gak ada yang mau duduk disebelah gue. Dan mereka memang sudah terlihat akrab satu dengan yang lain disatu meja.

Tok tok tok tok…….

“Silahkan masuk” Kata Guru kami

Pintu terbuka dan cahaya – cahaya suci menerangi wajahnya. Apakah itu malaikat?

“Maaf bu saya terlambat” Kata seorang gadis yang sangat cantik

“Silahkan duduk”

Dia sempat melihat ke kanan dan ke kiri dan tidak ada bangku kosong. Dan kemudian dia melihat gue dengan tatapan ngeri dan kemudian duduk. Seperti tidak percaya bahwa dia akan duduk sebangku dengan cowok alien.

Kursi mulai bergetar dan bibir gue mulai membiru seperti tidak percaya bahwa gue bisa satu bangku dengan seorang wanita cantik bak malaikat turun ke bumi. Atau mungkin ini kejadian tragis bagi dia.

Seperti tidak perduli namanya, wanita ini seperti sangat menyesal datang terlambat dan anugerah bagi gue. Gue tau namanya dari sampul bukunya. Sebut saja Mawar. Begitu wangi dan indah walau tulisannya jelek seperti duri ditangkai bunga mawar.

Beberapa bulan kemudian wali kelas kami menginginkan sebuah perubaha didalam kelas. Akhirnya Mawar pindah dari sebelah gue. Dan Surga bersorak – sorai. Gue kembali merana. Gue dibangkukan dengan seorang pria, sebut saja Joko.

Seiringnya kami sering bersama akhirnya kami bisa berteman baik. Ternyata rumah kami searah dan kami sama – sama dari Bekasi. Mungkin kami Jodoh? Mungkin. Itu pun kalau Tuhan mengizinkan ada Homo masuk surga.

Joko ini bisa dibilang awalnya bukanlah anak yang populer malah cenderung bodoh dalam hal pelajaran. Tapi lewat percaya dirinya dan wajahnya yang lumayan. Seenggaknya lebih dari gue dan keahliannya dalam men-dribleΒ si kulit bundar dan menceploskannya ke dalam ring membuat dia menjadi terkenal di seantero SMP bahkan SMA.

Apakah ini membuat gue naik popularitas? Tidak. Malah cenderung seperti pendampingnya. Dimana didalam sebuah pertemanan ada yang ganteng dan ada yang kurang ganteng. Dan itu gue.

“Ndi, pegangin tas gue dong. Gue mau basket sebentar. Pulang bareng ya”
“Oke bro”

Saat dia masuk ke lapangan basket dan membuka baju seragamnya di sebrang sana ada seperti orang sedang berdemo.

“Joko…..” Teriak seorang cewek
“Kamu ganteng banget…..”
“Joko mainnya keren…”

Gue tidur dibawah pohon rindang sekolah, ngeces, trus ketimpaan batang kayu. Masuk ICU. Jadi tambah kurang gantengnya.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s