Cinta dengan Komitmen dan Tujuan

Posted: 21 April 2015 in Uncategorized
Tag:, , , , , , ,

conflict

Komitmen adalah suatu perjanjian untuk melakukan sesuatu. Maka dari itu dalam melakukan sesuatu hal, apalagi menyangkut dengan masa depan gunakan suatu komitmen agar apa yang kita perbuat bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Diluar doa ya guys pastinyaπŸ™‚

Sangat menarik perbincangan gue pagi ini dengan seorang teman di dunia maya. Sudah lama tidak bersenda gurau dengan beliau ternyata dia sudah menikah dan bahkan sudah jomblo lagi katanya, alias janda.

Kenapa menurut gue menarik? Karena disana ada sebuah komitmen yang dilanggar atau seperti tidak mempunyai komitmen dalam melakukan sebuah tindakan.

Begini kata beliau: Kalau memang sudah tidak lagi satu tujuan dan satu kepahaman. Apa yang harus dipaksakan? Tidak ada orang (perempuan) yang menikah dengan tujuan menjadi janda tapi kalau semua jalan damai yang ditempuh dan buntu. Harus bagaimana? Apa harus dipaksakan bersatu?

Gue pun bertanya. Bagaimana pemikirin sebelum kalian menikah?

Awalnya semua sepepahaman. Meskipun ada masalah – masalah yang timbul masih bisa diatasi dan dipecahkan bersama. Tapi seiring jalannya waktu makin besar masalah yang muncul dan makin besar cobaan yang harus dihadapi. Dan seiring itu juga pandangan dan prinsip sudah tidak sejalan. Masalah bukannya terselesaikan tapi malah semakin besar sehingga salah satu diantaranya sudah mulai tidak fokus ke tujuan karena banyaknya faktor yang tidak mendukung ke arah sana. Terus apa hanya satu orang yang harus menyelesaikan?

Gue kembali melayangkan pertanyaan. Apa tujuan awal kamu menikah?

Dan pertanyaan ini belum terjawab oleh beliau.

Mungkin banyak orang punya tujuan hidup dan ada juga yang hidup mengikuti arus kehidupan. Bahkan beberapa orang hebat sudah merumuskan atau menulis atau menggambar tujuan hidup mereka. Tapi apakah tujuan yang kita inginkan itu adalah tujuan yang benar?

Misalnya saja. Apa tujuan kita bersekolah? Apa tujuan kita bekerja? Apa tujuan kita pacaran? Apa tujuan kita menikah? Dan lain sebagainya.

Jawaban yang paling mudah dari pertanyaan diatas adalah berbaris dengan pertanyaan selanjutnya. Tujuan kita sekolah adalah belajar dan bisa bekerja dan kemudian mempunyai pacar dan lalu menikah. Right? Tapi untuk apa itu semua?

Jawaban yang paling mulia adalah untuk memuliakan nama Tuhan.

Tapi kembali ke awal. Apa tujuan kita menikah? Dalam Kejadian 1: 28 dituliskan seperti ini ” Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasa atas ikan – ikan dilaut dan burung – burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Tujuan awal kita menikah adalah seperti yang dituliskan seperti diatas. Tapi masuk ke zaman perjanjian baru sudah pasti banyak hal lagi yang harus kita lakukan selain beranakcucu dan bla bla bla nya itu.

Dalam kekristenan dilarang bercerai karena dituliskan jika sudah disatukan oleh Tuhan maka manusia tidak boleh memisahkannya. Lewat HambaNya atau pendeta manusia telah disatukan oleh dasar Ketuhanan maka tidak layaklah manusia dan perundang – undangannya untuk memisahkan manusia.

Kenapa saudara kita yang disana bisa izinkan bercerai? saya kurang tau juga.

Banyak orang bercerai hanya alasan tidak cocok. Apa manusia yang disatukan ini seperti sepasang sepatu? Jika tidak cocok maka tidak bisa berlanjut. Ada juga alasan lainnya seperti sudah tidak sepahaman. Bagaimana bisa sepaham kalau menikah saja tidak punya komitmen dalam berhubungan? Pikir lagi. Alasan lainnya juga banyak seperti sudah tidak satu tujuan. Apa tujuan kita menikah? Padahal memang sudah dasarnya tidak punya tujuan tapi itu dijadikan dalil untuk bercerai. Dan masih banyak lagi yang menurut gue hal sepele dijadikan alasan untuk bercerai di era modern seperti ini.

Masalah berat pun seperti perselingkuhan, pertengkaran, tidak bertanggung jawab dll-nya seharusnya bisa diselesaikan dengan kasih. Saling intropeksi diri, mengenal satu sama lain lebih dalam agar setiap masalah yang kita hadapi bisa dibicarakan secara empat mata.

Anggap sebuah masalah itu ujian bukan cobaan. Karena ujian adalah cara untuk kita bisa naik level atau naik kelas.

Pikir..!! Menikah bukan hanya berbicara soal jasmani tapi rohani. Bagaimana dua manusia berusaha untuk satu pikiran, satu hati, dan sejiwa dalam tubuh yang berbeda.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s