Naik Pajero Sport

Posted: 24 Maret 2015 in Dan Lain - Lain :))
Tag:, , , , , , , ,

Pajero

Naik Pajero Sport
Tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke Istana Raya Bogor
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Pajeroku (punya orang sih) tak berhenti lama

Itulah lagu Naik Pajero Sport yang nyontek dari lagu Naik Kereta Api.

Sekitar setahun yang lalu. Komunitas gereja gue ingin mengadakan sebuah retret di puncak. Untuk itu harus ada orang yang ditugaskan mensurvey villa dan saat itu yang pergi adalah gue dan abang gue. Karena kami belum memiliki villa tujuan maka kami memutuskan untuk mencari di google dahulu atau bertanya kepada teman – teman.

Ketika kami sedang bingung dengan pilihan villa dan harga juga tentunya. Kami mendapat sebuah rekomendasi dari Pendeta tempat kami berjemaat.

Pak Pendeta sebelumnya memberi tahu kami kalau sang pemilik villa rutin pergi ke villanya untuk mengambil sayur – sayuran yang dia tanam.

“Wah bisa naik mobil box nih jangan – jangan. Atau pulang naik mobil bak yang berisikan sayur” Pikir gue.

Beberapa hari kemudian. Kami diberitahu tempat dimana bertemu agar berangkat bersama dari Jakarta menuju Bogor. Sesampainya ditempat yang sudah dijanjikan. Ngaret sodara – sodara. Kenapa jadi seperti khotbah.

Akhirnya kira – kira jam 9 pagi -setelah nunggu kurang lebih 2 jam- datanglah Pak Pendeta menghampiri kami.

“Ayo Har naik” Kata Pak Pendeta sambil mendekati sebuah mobil.
“Pajero men” Kata gue sambil berbisik

Kami pun berangkat menuju Bogor dengan keadaan lalu lintas yang sangat lancar. Ngalor ngidul membicarakan bisnis dari a sampai z. Tapi ada yang aneh dalam mobil ini. Mobil ini panas dan cenderung pengap.

Mobil yang berisikan hanya 6 orang ini seharusnya tidak akan sepengap ini. Di depan pemilik mobil sebuat saja Budi dan Pak Pendeta di bangku tengah Ibu Budi dan Ibu Pendeta dan di bangku belakang ada gue dan abang gue.

“Bilang bro nyalain AC-nya. Pengap nih” Kata gue
“Lu aja yang bilang”

Dengan saling melempar perkataan tibalah kami di Villa Pa Budi. Udaranya sangat sejuk, airnya dingin dan pemandangan yang sangat asri. Walau seperti ditengah hutan tepatnya.

Sebuah rumah kecil dengan sebuah kolam ikan di depannya dan hiasan bunga teratai sedang mekar menambah indah tempat ini. Tapi sepertinya tempat ini bukan tempat yang cocok untuk retret. Lebih cocok untuk jomblo yang sedang galau.

Merenungi nasib, menunggu Princess datang sambil memandangi rembulan ditemani bunga teratai yang sdang mekar dan sambil memberi makan ikan. Ditambah lagi gemercik air yang turun langsung dari pegunungan membuat suasana disini semakin galau.

Gue dan abang gue coba mendaki ke atas bukit yang ada di belakang rumah. Sempat terpleset tidak membuat nyali kami ciut. Sesampai diatas ternyata ada rumah warga lainnya dan ada beberapa anak – anak sedang bermain di kolam renang. Pasti segar sekali, kolam renang berisikan air pegunungan.

Semakin naik keatas, pemandangannya semakin indah. Bukit – bukit beradu menjulang tinggi dengan warna hijau menjadi sangat dominan. Sepertinya sudah jam makan siang. Kami harus kembali kebawah.

Sesampai dibawah kami sudah disuguhkan dengan makanan kelas berat tapi sehat tentunya. Sayuran organik yang langsung di petik dari kebun dan ayam goreng yang sangat besar untuk per orangnya. Cabai dan tomat yang disatukan menjadi sambal pun langsung diambil dari pekarangan yang ada.

Sesudah kami makan, kami beristirahat sejenak -padahal gak ada kerjanya- atau istilahnya menggravitaskan yang telah kami makan agar segera turun mengikuti aliran darah, Tsah… Kaya anak IPA kan penjelasannya =))

Mendekati sore, kami bergegas untuk kembali ke Jakarta. Kembali kami naik mobil Pajero yang keren dan mahal ini. Karena gue dan abang gue duduk di kursi belakang maka harus naik terlebih dahulu dengan melipat kursi yang ada ditengah.

Gue dan abang gue sudah naik tapi keempat orangtua itu belum juga naik. Sepertinya sedang memilah sayuran untuk dibawa pulang sebagai oleh – oleh. Sebelum mereka naik gue dan abang gue coba mengotak – atik tombol yang ada. Sebelum kami mati kekurangan oksigen saat duduk di belakang.

Dan…………………………………………………………..
Ternyata tombol AC untuk kursi dibelakang ada di hadapan kami. Bukan seperti mobil biasa yang menyalakan AC semuanya dari depan.

Iya. Kami hampir kejang kekurangan oksigen karena kebodohan kami sendiri. Malu bertanya kejang – kejang.

AC sudah nyala dan mobil pun bergerak jalan. Beberapa meter setelah mobil berjalan, turunlah hujan dan menjadikan mobil ini terasa dingin sekali. Kami putuskan untuk mematikan AC-nya.

Sudah ditemukan dan dia tidak berfungsi.

Tibalah kami dirumah tanpa menggunakan AC dan dengan membawa sayuran.

Sekian cerita dari gue Asyalomualikum……

-Andi, 22th. Penikmat AC-

Komentar
  1. gusyandi mengatakan:

    mantaaps pazeronya..semoga berkah. http://wp.me/4Ciil

    Suka

  2. Hariandi LD Siahaan mengatakan:

    Oh. Amin deh kalo gitu. Hahaha =))

    Suka

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s