BEDA

Posted: 19 Februari 2015 in Uncategorized
Tag:, , , , , ,

menikah
Mengutip cerita di novel Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya halaman 216 – 217. Gue mendapatkan suatu pelajaran bahwa untuk menjadi sepasang kekasih adalah bukan hanya untuk saling melengkapi. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama – sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan.

Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawa masing – masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain. Misalnya, Gue gak kuat agamanya. Lantas Gue mencari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah. Padahal setiap orang sebenarnya wajib menguatkan agama. Terlepas dari siapa pun jodohnya.

Memang di novel itu bukan membahas tentang agama, tapi gue tertarik dengan tulisan yang mengatakan “Padahal setiap orang wajib menguatkan agama. Terlepas dari siapa pun jodohnya”. Yap, betul sekali. Setiap orang wajib menguatkan agama, mempelajari agama lebih lagi untuk bekal rohaninya, dimana pun orang itu berada.

Kenapa sih judulnya BEDA? Dan gak ada hubungannya dengan kalimat pembuka. Itu pun kalo lu bertanya – tanya. Judulnya gue bikin BEDA karena gue mau bahas sedikit tentang perbedaan, dan khususnya pacaran dalam beda agama.

Gue bukan anak sekolah theologia yang pinter tentang paham keagamaan. Gue cuma mau bahas hal ini dengan apa yang ada di otak gue. Gue pengen nulis hal ini karena ada orang disekeliling Gue yang agak pusing dan bahkan sulit untuk menentukan pilihan dalam pasangan beda agama.

Menurut Gue, agama atau kepercayaan itu bukan hanya suatu pilihan tapi tanggung jawab. Gue yang lahir sebagai orang Kristen. Gue harus bertanggung jawab sebagai orang Kristen sampai Gue mati. Kenapa? Karena, Gue percaya Yesus sudah mati hanya untuk setiap dosa umat manusia, apalagi gue yang dosanya banyak banget. Dan egois, kalo gue meninggalkan kepercayaan yang gue pegang dari lahir sampai saat ini hanya karena cinta manusia. Yesus gue punya cinta yang lebih dari cinta manusia.

Dan andai lu yang baca ini adalah kaum muslim, gue rasa egois kalo diri lu juga mau meninggalkan kepercayaan lu hanya karena cinta dari manusia. Gue juga percaya Nabi – nabi yang pernah ada merelakan nyawa mereka hanya untuk menyebarkan suatu kepercayaan dan kitab dari Sang Maha Kuasa, agar kita bisa dan mampu mengenal benar dan salah.

Bagaimana dengan mereka yang pindah agama? Tanya saja sama mereka. Bagaimana perasaan mereka saat ini.

Gue gak pernah bangga kalau ada orang yang memeluk agama lain kemudian pindah ke agama yang lainnya hanya karena menikah dan kemudian berpindah agama mengikut pasangan. Karena nyatanya ini semua hanya akan didasari cinta terhadap manusia bukan kepada Tuhan yang akan lu sembah kedepannya.

Coba kasih tau gue, orang yang akan utuh rumah tangganya ketika salah satu dari mereka pindah agamanya. Dan kemudian tunggu sampai anak mereka besar. Akan kah itu akan bertahan lama?

Bagaimana mereka hidup bersama tapi ada perbedaan dalam kehidupan mereka. Ingat, menikah bukan hanya menyatukan dua orang yang berbeda, tapi ikut mengikat kedua keluarga dalam kebersamaan.

Bukan melarang pacaran dengan beda keyakinan –bukan hak gue juga sih- tapi cobalah bertanggung jawab atas apa yang Tuhan telah berikan. Kita terlahir berbeda itu bukan karena kesengajaan, percaya bahwa itu semua rencana Tuhan.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s