Cewek Silver Queen

Posted: 19 Oktober 2014 in Uncategorized
Tag:, , , , , , ,

coklat

Hape gue yang memang selalu berisik beberapa hari yang lalu sedikit membuat gue gak abis pikir.

“Temen SD gue udah pada nikah aja ya, ada yang punya anak juga lagi”. Ini yang gue pikirin setelah gue dapat undangan pernikahan dari grup Whatsapp temen – temen SD gue.

Pikiran gue sih yang penting gue dateng dan menunjukkan solidaritas gue sebagai temen lama. Temen seru – seruan waktu kecil, yang sudah hampir pasti tidak akan terulang kembali.

Sebelum adzan magribh, gue sudah berjalan menuju basecamp yang memang tempat berkumpul temen – temen SD gue biasanya. Gue berjalan membawa sekotak kado ulangtahun yang sudah gue janjikan buat temen SD gue.

Setelah semua berkumpul, mungkin sekitar 10 orang. Berangkatlah kami semua menuju tempat resepsi. Gue yang memang sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu agak canggung untuk memulai, tapi itu bisa diatasi dengan segera.

Menulis daftar hadir, memasukkan amplop, bersalaman dengan pengantin dan mencicipi makanan, ya kebiasaan hampir semua orang ketika datang ke sebuah resepsi.

Sedang berbicara ngalor ngidul ke salah satu teman, dapat kabar kalau Cewek Silver Queen minta jemput di depan.

“Ndi, jemput dia sana” Kata salah satu temen gue.
“Yee, gue mana inget mukanya”

Sambil terus bicara ngalor ngidul, sapa menyapa. Gue melihat sesosok cewek seperti gue kenal.

“Itu dia ya?” Tanya gue
“Mana?”
“Itu” Jawab gue sambil menunjukkannya dengan kepala.

Dengan kepuraan, gue coba untuk tidak melihat dia. Ya, benar saja, dia benar – benar tidak melihat gue.

Disebuah kursi berjejer yang tersedia di belakang panggung pengantin, disana teman SD gue berkumpul. Ada yang makan, ngobrol, merokok, dan ada juga yang sibuk dengan handphone-nya masing – masing.

Dia duduk bergabung bersama dengan temen SD yang cewe dan gue sama cowok – cowok yang ada dan dipisahkan oleh seorang kakek tua yang duduk entah seperti arah tujuan.

Gue tunggu sampe kakek ini pergi supaya gue bisa duduk tepat di hadapan dia. Kakek itu sudah berdiri dan kemudian duduk lagi.

“Ah sial nih kakek – kakek, pergi kek” Dalam benak gue.

Ya, akhirnya kakek itu pun pergi dan gue duduk tepat di hadapan dia.

“Hai” Sapa gue dan kami pun saling bersalaman. “Sekarang kuliah/ kerja?” Tanya gue untuk membuka pembicaraan.

Dibarisan lainnya, teman – teman cowok kembali mengingat kejadian saat gue ingin memberikan coklat valentine buat dia yang berakhir dengan kegagalan. Kami pun tertawa bersama.

Saling mengenal satu sama lain kembali, berbicara tentang suatu yang tidak pernah kita bayangkan dulu kepada satu sama lain.

“Kuliah/ Kerja?”
“Kuliah dimana?”
“Kerja dimana?”

Ya, itu yang kami bicarakan satu kepada yang lain.

Hampir selesai rutinitas yang kami lakukan, tinggal mengakhiri semuanya dengan meninggalkan cetakan kami disebuah kamera SLR milik seorang teman.

Rutinitas selesai dan kami berjalan bersama menuju tempat parkir yang sudah dikhususkan. Tanpa disengaja tapi entahlah, Tuhan pasti sudah merencanakannya. Semua teman – teman gue jadi pas satu motor berdua dan mau tidak mau gue harus mengantar dia pulang.

Tawa riuh ditempat perparkiran, ingatan coklat valentine kembali diingatkan. Membuat gue seperti merasa kembali ke 10 tahun lalu.

“Udah?” Tanya gue setelah dia naik ke motor yang gue kendarai.
“Udah” Jawabnya simple.
“Eh gimana kabarnya adik lu? Rangga. Rangga ya nama adik lu?”
“Oh, dia kuliah sama ditempat gue”
“Pacar lu anak mana?”
“Satu kampus sama Tono -sebut saja namanya Tono-”
“Oiya, rumah lu dimana?”
“Masih seperti yang dulu kok”
“Judul lagu kali ah seperti yang dulu” Jawab gue mengejek, dan kami pun sempat tertawa canggung.
“Eh kok cepet banget ya udah mau nyampe aja” Kata gue yang sedikit ingat sekitar rumahnya dan yang memang dekat juga dari tempat resepsi.
“Ya iyalah kan deket juga”
“Ah kalo tau gini tadi gue lamain aja ya, hahaha”
“Yee….”
“Mau pulang nih? Jalan dulu gimana?” -usaha bro-
“Udah malem, ntar gue dicariin sama bapak emak gue”
“Eh beloknya dimana nih? Gue agak lupa soalnya”
“Itu di depan belokannya, eh udah di tiang listrik itu aja” Katanya memberi tahu patokan tempat pemberhentiannya.
“Iyaiya…”
“Ok thanks ya”
“Iya sama-sama”

Gue pun memutarkan kan kuda besi gue untuk menuju kembali ke rumah. Sederhana, tapi membuat gue cukup sumringah malam itu.

Kamu yang lama tidak saling bertemu.
Kamu yang dulu membuat aku tahu cinta belum pada waktunya.
Kamu yang seperti coklat valentine mengisi kehidupan kecilku.
Coklat Valentine yang gagal aku berikan kepada kamu karena nyaliku yang terlalu kecil, membuat aku belajar banyak bahwa keberanian adalah suatu yang pasti dimiliki seorang lelaki untuk mendapatkan hati seorang wanita pujaannya.

Coklat Valentine itu indah saat pada waktunya diberikan, namun tak semanis coklat yang kita bayangkan. Ada pahitnya, ada kacang didalamnya, yang membuat kita harus mengigitnya sebelum masuk kedalam lambung melewati tenggorokan.

Komentar
  1. anggajsaputro mengatakan:

    wauaaa

    Suka

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s