Ex-GirlFriend Part 3

Posted: 11 November 2013 in All about Ex Girlfriend :))

Bekas pacar…

Kasar banget kayanya..

Ok, mantan kekasih

Sip.

Mereka ini bisa kok guys sebagai inspirasi kita dalam menulis dan bisa juga sebagai alat intropeksi diri. Terserah kalian mau di jadiin apa. Mau di buat balikan juga ngga apa – apa. Eh…

Mantan yang ini namanya Ima, tapi sebut saja Mawar. Eh lu udah tau namanya ya, yaudah kita sebut saja Ima.

Mantan gue ini adalah mantan ketiga dalam daftar urutan nama – nama mantan.

Kisah mantan ini berawal dari ujian semester pertama waktu SMA.

Meja – meja disusun sesuai nomor ujian yang sudah di temple dan para murid siap mengikuti ujian. Agar para murid tidak bisa menyontek maka setiap murid yang satu kelas dipisah tempat duduknya. Tapi bodohnya malah disatukan oleh kakak kelas. Berarti kesempatan bertanya dan jawaban bisa benar ada 70% – 80%. Tinggal berdoa saja. Semoga kakak kelas yang duduk disebelah kita adalah kakak kekas yang pintar, pandai, baik hati, tidak sombong, dan rajin membantu.

Jalannya ujian

Yes… -Ini bukan sorakan bahagia-

Gue anak baru, mana gue kenal siapa yang duduk di sebelah gue. MOS aja gue ga ikut di sekolah ini.

Setelah bel sekolah masuk barulah kelihatan siapa yang duduk disebelah gue.

Well, nama kakak kelas yang duduk disebelah gue itu namanya Sortauli Purba –batak beth ya, beth, beth namanya-. Tapi temen – temennya ada yang manggil Sorta, Auli, Uli ç (kaya nama kue). Gue manggil dia Auli, kurang sopan santun memang. Eh, gue manggil kakak kok –saat gue minta jawaban-. Sopan kan gue?

Kita pun kenalan disela – sela ujian tersebut. Pelajaran di ujian pertama masih mudah dan tanpa menyontek. Masih segan buat nanya lagi masa baru ujian pertama udah nanya aja, ga sebodoh itulah gue. Dan petakalah ketika ujian di pelajaran bahasa Inggris, gue paling bego kalau pelajaran yang satu ini. Abis ribet apa yang ditulis beda sama yang dibaca.

Karena itu gue putuskan untuk bertanya sama kakak Auli disebelah gue. Dan WOW…!! Gue murid kelas 1 yang selesai pertama saat ujian di mata pelajaran bahasa Inggris. Amazing.

Tapi saat bersamaan ketika itu anak kelas 2 sedang ujian PenJas (Pendidikan Jasmani). Jadi dalam ujian tersebut kakak Auli ngajarin gue bahasa Inggris dan gue ngajarin dia PenJas. Kita pun seperti pasangan paling pintar untuk saat itu.

Eh… eh… kok jadi cerita cewek lain siih, kan ini cerita tentang mantan ke 3.

Dari mulai deket sama Auli jugalah gue bisa deket sama Ima dan kebetulan juga ada temen sekelas yang akrab dengan Ima. Lambat laun makin dekat juga sama Ima, mulai dari SMS dan telfonan. Sekalipun mata gue minus 2 saat itu –sekarang minus 4,5- tapi yang namanya ngeliat cewek cantik mah mata gue bisa normal saat itu. Wajah cantik, rambut panjang, kulit putih, tinggi cukup –kok jadi kaya cirri – cirri kuntilanak ya?-. Siapa yang gak naksir? Kuntilanak juga kalo pake rok mini pasti banyak yang godain. Eh, tapi Ima bukan kuntilanak loh.

Mungkin orang boleh bilang cinta itu dari mata turun ke hati tapi gue mau menyangkal istilah itu,bagi gue istilah yang cocok untuk orang yang sedang PDKT adalah dari mata naik ke otak. Kenapa dari mata naik ke otak? Karena dari mata gue bisa melihat kecantikan dan tingkah laku dia yang menggemaskan dan yang kemudian naik ke otask dan mulai bekerja memikirkan dia. Inilah proses jatuh cinta.

Jatuh cinta bisa bikin gila mungkin benar nyata di kehidupan ini. Senyum – senyum sendiri, sering ngaca, pakai parfum ke sekolah, bangun lebih pagi biar bisa dandan. Kalau lagi jatuh cinta dan cewek yang lu suka ada di lingkungan terdekat lu, pastilah kita harus berusaha jadi orang paling cool and charming di lingkungan tersebut. Dan begitulah gue saat itu.

Waktu itu bulan Agustus, disisi lain gue sedang jatuh cinta dan bahagia tapi disisi lain gue sedang berduka. Adik gue yang terlahir kembar, salah satunya terkena penyakit jantung. Gue juga mulai sibuk jagain adik – adik gue yang lain di rumah karena nyokab di rumah sakit.

Well, adik gue kayanya tidak menunjukkan kemajuan di rumah sakit. Saran dari dokter adalah harus di operasi tapi ada kendala yaitu adik gue masih bayi, waktu itu berumur 4 bulan. Di pertengahan bulan Agustus adik gue boleh dibawa pulang. Walau tetap harus bolak – balik ke rumah sakit. Kemudia gue dan adik – adik gue yang lain harus mengungsi ke rumah saudara supaya ada yang mengurusi keperluan adik – adik gue. Saat gue sedih, gue mencoba mencari hiburan dan muncul dipikiran gue saat itu  “Kenapa gue ga nelfon Ima ya?”. Dan akhirnya gue putuskan untuk nelfon Ima. Sebelum nelfon gue aktifkan dulu TM –istilah untuk telfonan murah sesama pengguna provider Telkomsel- di HP gue. Inget ini irit bukan pelit, namanya juga lagi keadaan labil ekonomi. Malam itu pun gue nelfon Ima dan mulai bersenda gurau dari A – Z, hingga akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulut gue.

“Lu mau ga jadi pacar gue?”

Pertanyaan umum yang biasa di tanyakan oleh seseorang ketika menyatakan cinta. Tapi kenapa pertanyaan ini tidak sepenuhnya keluar dengan sukacita?..

“Hmm, aku ga bisa jawab sekarang”

“Trus kapan?”

“3 hari lagi aja ya”

“Hmm. Oke”

“Yaudah dulu ya, udah malem besok kan sekolah aku mau tidur dulu”

“Iya. Have a nice dream” kata gue menutup pembicaraan.

Telfon di tutup dan gue pun beranjak untuk tidur dengan kalimat romantis pengantar tidur.

Belum lama gue tidur ada seseorang yang membangunkan gue dengan terengah – engah

“Bang… bang… bang!!”

Gue bangun tapi masih setengah sadar

“Bang” Terus berusaha membangunkan gue.

“Ada apaan?” jawab gue setengah sadar.

“Hezkiel meninggal”

“APAAN? Serius lu?”

“Dirumah opung sekarang”

Tanpa basa – basi gue lari ke rumah opung gue –kurang lebih 200 meter- dan langsung masuk memeluk adik gue sambil menangis.

Setelah adik gue meninggal, gue ngga masuk sekolah 2 hari. Hari pertama ga masuk karena penguburan dan hari ke 2 masih masa berkabung. Dan gue masuk di hari ke 3, tanpa disadari inilah hari seharusnya jawaban dari pernyataan cinta gue terungkap. Tapi dari gue sampai di sekolah Ima belum kelihatan wujudnya. Apa dia ga masuk sekolah gara – gara ini ya? Ah ga mungkin dia ga sekolah.

Gue perhatiin dari tadi kelasnya dia, sampai waktunya istirahat barulah dia kelihatan keluar dari kelasnya. Dan gue langsung menghampirinya.

“Hai, mau kemana niih?”

“Ke kantinlah”

“Oh.. eh jadi gimana jawabannya?”

“Jawaban apa?”

“Yang itu!”

“Yang mana?”

“Yang waktu malem – malem aku telfon katanya jawabnya 3 hari”

“Ntar aja ya pulang sekolah’

“Yaudah deh” kata gue sambil garuk kepala.

Bell sekolah berbunyi, waktunya pulang dan gue langsung menuju pintu kelasnya dan menanyakan lagi tentang jawaban tersebut. Tapi tetap dia berkelit dan mau menunda untuk menjawab atas pertanyaan isi hati gue.

Saat gue sedang bersama dia datanglah saudara gue yang kebetulan satu sekolah sama gue dan mengajak kakak kelas gue yang sekalian calon pacar gue ini untuk membeli tas ke sebuah pasar yang terkenal di daerah sana.

Jadilah kami pergi bertiga untuk membeli tas dan terjadi juga pembicaraan yang kaku saat di dalam angkot. Mungkin kalo waktu zaman gue SMA kata – kata KEPO sudah terkenal pastilah gue orang terkepo saat itu karena terlalu ingin tahu jawaban hati seseorang. Gue Tanya lagi di dalam angkot dan dia ga mau jawab juga. Hingga sampailah di pasar tempat saudara gue ingin membeli tas keperluan dia. Di tengah kesibukan saudara gue memilih – milih tas, disitulah kesempatan gue mulai berbicara kembali dengan Ima, mulai meyakinkan dirinya dan seserius apa perasaan gue sama dia.

Sampai muncul dalam pikiran gue “Apakah sesulit ini untuk meyakinkan hati seseorang wanita?” padahal ada jawaban pasti yang tersedia dalam hal ini. Jawab tidak jika memang lu ngga suka sama gue dan jawab iya jika lu mau jadi pacar gue. Tapi jangan jawab bisa jadi karena perasaan orang bukan kuis di acara Eatbulaga Indonesia.

Sesudah saudara gue mendapatkan tas yang dia inginkan, beranjaklah kita meninggalkan toko tas di pasar itu dengan format gue berjalan berdampingan dengan Ima dan saudara gue dibelakang sambil terus melihat – lihat jualanyang bergelantungan di sepanjang emperan toko.

Berjalan kami menyusuri emperan – emperan toko dan tidak terasa kami telah sampai di terminal yang berada di luar pasar tersebut, namun saat gue menghadap belakang ternyata saudara gue jauh tertinggal dibelakang yang asyik melihat – lihat baju yang terpampang di sepanjang emperan toko. Suara gemuruh langsung menyeruak di telinga kami berdua. Obrolan kami pun mulai sulit terdengar karena gemuruh dari suara manusia dan suara dari kendaraan.

Pertanyaan itu pun terlontar kembali di tengah gemuruhsuara di terminal ini.

“Kamu mau ga jadi pacar aku?” Tanya gue.

“Apa?” Jawab Ima seperti tidak sepenuhnya jelas mendengar pertanyaan dari gue.

“Kamu mau ga jadi pacar aku?”

“Aku ga denger” Jawab dia seperti memang tidak mendengar pertanyaan gue atau emang dia ada budek – budeknya. Atau juga hanya akal – akalan dia saja supaya gue berhenti bertanya tentang hal ini. Tapi gue tetap optimis untuk terus bertanya hingga perasaan gue ini terjawab.

“KAMU MAU GA JADI PACAR AKU?” Teriak gue ditengah keramaian terminal. Mungkin ada beberapa orang yang melihat ke arah kami tapi tidak terlalu menanggapinya Karena terlalu ramai dan berisik.

“Iya” jawabnya pelan. Tapi gue tau jawab iya dari gesture bibirnya yang menjawab “iya’

“Iya apaan?”

“Yaudah iya”

“Berarti kita jadian ya”

Satu pernyataan yang memang agak membuat gue ragu. Tapi memang cinta itu buta. Jawaban apapun itu ketika bisa membuat kita senang pasti kita akan senang.

“Iya”

Gue pun punya pacar..!! (sementara)

Seperti halnya orang baru jadian pastilah hari – hari terasa bahagia. Dan pacaran 1 sekolah memanglah bisa menjadi motivasi kita untuk bangun lebih pagi dari biasanya. Perasaan ingin ketemu dia, dia, dia dan dia di setiap harinya. Hal ini juga yang gue rasain saat – saat itu. Masuk gerbang sekolah dan sengaja melewati depan kelas doi.

Kejadian alay ini terungkap bahwa cinta itu harus nyata.

Comment? Disini aja

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s